Tag Archives: Pantai Nguyahan

Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran terkenal dengan multikulturnya dibuktikan dengan adanya tempat ibadah 4 agama yang berdiri secara berdekatan. Yang paling terlihat adalah adanya semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih yang dibangun untuk memperingati kehadiran Brawijaya V di tempat ini. Orang yang beribadah di tempat ini adalah para penganut Kejawan. Sementara di sebuah Joglo yang terletak di kiri pura tersebut digunakan untuk para penganut Kejawen. Kejawan sendiri berbeda dengan Kejawan. Tempat peribadatan lai yang berada di tempat ini adalah pura untuk beribadat pemeluk agama Hindu dan Masjid. Masjid di tempat ini memiliki keunikan tersendiri yaitu masjid ini menghadap ke selatan dan beralaskan pasir. Untuk menunjukkan arah kiblat penduduk sekitar memberi tanda berupa arah panah di dinding masjid. Pantai ini sudah sangat terkenal sehingga sudah sering diliput oleh acara-acara traveling di televisi. Pantai ini sangat eksotis, jika laut sedang surut maka kita bisa melihat hamparan algae yang berwarna hijau dan coklat. Sangat indah jika dilihat dari atas batu karang.

Menurut cerita masyarakat setempat, Prabu Brawijaya V yang merupakan keturunan terakhir Kerajaan Majapahit melarikan diri bersama kedua istrinya, Bondang Surati dan dewi Lowati karena enggan diislamkan oleh putranya sendiri yang bernama Raden Patah (Raja Demak). Mereka berkelana malang melintang ke daerah pedalaman dan pesisir. Ketika tiba di pantai yang kini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu, mereka dihadapkan dengan ganasnya ombak laut selatan. Akhirnya Prabu Brawijaya V memutuskan untuk mati obong atau membakar diri. Dari peristiwa membakar diri itulah kawasan pantai ini diberi nama Ngobaran. Ngobaran berasal dari kata kobong atau kobaran yang berarti terbakar atau membakar diri. Namun usaha untuk membakar diri yang dilakukan Prabu Brawijaya V tersebut diyakini adalah tindakan untuk berpura-pura meninggal karena dia tidak mau bertempur melawan anaknya sendiri yaitu Raden Patah, Raja Pertama dari Kerajaan Demak. Prabu Brawijaya sendiri diyakini moksa di kawasan pantai ini.

Pantai ini memang sarat sejarah dan aroma mistis yang justru menambah keeksotisannya. Walaupun sebagian besar pantai ini berupa batu karang dan hanya sedikit yang berupa pasir kita tetap bisa turun kepantai dengan melewati anak tangga yang sudah disiapkan. Untuk bermain air dan pasir pantai anda bisa mengunjungi pantai Nguyahan yang terletak di sebelah barat pantai ini dan hanya berjarak kurang dari 100 meter. Hidangan khas dari pantai ini adalah landak laut goreng.

Untuk mencapai pantai Ngobaran anda bisa mengikuti rute menuju Pantai Ngrenehan, yaitu dengan melewati Jogja – Playen – Paliyan – Saptosari – Ngrenehan atau Jogja – Imogiri – Panggang – Saptosari. Jika anda datang dari arah timur anda bisa melalui Wonosari – Paliyan – Saptosari atau Wonosari – Baron – Ngrenehan. Pantai Ngobaran adalah salah satu pantai yang harus anda kunjungi ketika berada di Gunungkidul. Jika anda sudah berada di Pantai Ngrebehan maka wajib hukumnya untuk mengunjungi Pantai Ngobaran yang berjarak sekitar 2 km dari Pantai Ngrenehan.

Enjoy.

Pantai Ngobaran

.ask

pantai Nguyahan

Pantai Nguyahan

Menurut cerita masyarakat setempat, sejak zaman penjajahan Belanda, Pantai yang berada disebalah barat Pantai Ngobaran sering digunakan sebagai tempat pembuatan garam atau dalam bahasa Jawa disebut uyah. Mulai saat itu hingga kini pantai tersebut dikenal dengan nama Pantai Nguyahan. Pantai ini turut menjadi saksi penjajahan Belanda saat meminta upeti berupa garam di Pantai Nguyahan. Berbeda dengan Pantai Ngobaran yang sudah sangat terkenal dengan multikultural dan aroma mistisnya. Belum banyak yang mengetahui Pantai Nguyahan ini, maka jelas saja pantai ini cenderung sepi karena memang tidak terdapat papan penunjuk ke pantai ini. Padahal pantai ini merupakan satu paket dengan Pantai Ngobaran. Jika anda tidak bisa melakukan bermain air dan pasir di Pantai Ngobaran, maka anda dapat melakukannya di Pantai Nguyahan ini. Pantai Nguyahan juga sering digunakan oleh penduduk sekitar yang mencari tumbuhan sejenis algae yang biasa disebut dengan suket paris.

Untuk mencapai pantai ini anda bisa mengikuti rute ke Pantai Ngobaran. Jogja – Playen – Paliyan – Saptosari atau Jogja – Imogiri -Panggang – Saptosari. Setelah sampai di pantai Ngobaran anda tinggal berjalan kaki sekitar 50 meter untuk mencapai pantai ini. Pantai ini cenderung sepi dan justru lebih leluasa untuk bermain-main air di pantai. Pantai ini juga memiliki hamparan pasir yang cukup luas. Jika anda sudah mencapai Pantai Ngrenehan dan Pantai Ngobaran, maka tidak ada salahnya datang di pantai ini. Pantai ini juga eksotis dan mempesona. you will never regret

enjoy..

Pantai Nguyahan

.ask

Ngrenehan

Pantai Ngrenehan

Menurut sejarahnya, Pantai Ngrenehan merupakan nama pemberian dari saja Demak yang bernama Raden Patah, Putra dari Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya sendiri adalah raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1464 – 1478 M. Konon, suatu ketika Raden Patah datang ke tempat ini untuk mencari ayahnya yang melarikan diri bersama 2 istrinya (Dewi Lowati dan Bondang Surati) yang enggan memeluk agama Islam. Namun saat Raden Patah sampai di tempat ini dia tidak menemukan orang tuanya. Akhirnya bersama dengan para petinggi di Kerajaan Demak Raden Patah berembug (bermusyawarah) untuk mencari cara bagaimana menemukan orang tuanya. Dari peristiwa ini lah muncul kata Pangrena yang berarti ajakan. Pangrena sendiri berasal dari kata reneh yang berarti sini. Kemudian masyarakat sekitar mulai menyebut tempat ini menjadi Ngrenehan yang berarti ‘kemarilah kesini’. Kata reneh yang diberi awalan ng dan akhiran an merujuk pada suatu tempat yaitu Pantai Ngrenehan.

Pantai Ngrenehan sendiri terletak di desa Kanigoro kecamatan Saptosari. Ada beberapa cara untuk sampai di pantai ini. Jika datang dari Jogja, anda bisa melalui Playen – Paliyan. Dari Paliyan menuju ke arah Panggang, ada sign board menuju Pantai Ngrenehan di pertigaan Saptosari, untuk mencapai Pantai Ngrenehan anda harus mengambil jalan ke kiri. Menyusuri jalan aspal yang agak berlubang sepanjang 12 km maka anda akan sampai di pantai ini. Anda juga bisa sampai ke pantai ini melewati Pantai Parang Tritis menuju Panggang kemudian Saptosari. Jika sudah berada di Saptosari maka akan banyak sekali papan penunjuk arah ke pantai ini. Alternatif lain jika anda datang dari arah timur, maka anda bisa melalui Wonosari kemudian Paliyan dan Saptosari atau bisa juga melalui Pantai Baron. Jalan menuju pantai inisudah cukup baik dan beraspal. 12 km terakhir anda harus lebih berhati-hati karena kadang lubang di aspal cukup dalam.

Pantai ini berupa pantai teluk, mempunyai kemiripan dengan pantai Baron namun lebih sempit. Lebih bisa disebut sebagai pantai pelabuhan Nelayan daripada disebut sebagai Pantai untuk wisatawan. Karena banyaknya kapal-kapal Nelayan yang ada dibibir pantai. Akan tetapi tentu saja wisatawan masih bisa menikmati pantai ini. Pantai ini terletak diantara dua bukit karang sehingga suasananya cenderung teduh, angin dari laut yang menghantam pantai pun tidak terlalu besar karena terlindung oleh bukit karang tersebut. Pantai Ngrenehan juga difungsikan sebagai suaka marga satwa, satwa yang dilindungi di tempat ini adalah penyu. Sudah ada papan peringatan kepada para nelayan untuk tidak menangkap penyu, hewan yang sudah dilindungi oleh negara. Wisatawan juga bisa menikmati masakan hasil laut yang bisa dibawa oleh para nelayan di warung-warung makanan di sekitar pantai ini. Atau bisa juga membeli hasil tangkapan laut yang segar di Tempat Pelelangan Ikan yang sudah tersedia.

Jika sudah sampai di pantai ini, jangan lupa mengunjungi Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan yang berada tak jauh dari Pantai Ngrenehan dan bisa ditempuh dengan waktu tak kurang dari 5 menit.

enjoy…

Pantai Ngrenehan

.ask (dari berbagai sumber)